Kisah Siput Kecil

Di suatu senja, terdengar percakapan antara antara seekor siput dan seekor burung kecil.

“Ada apa denganmu wahai siput? Wajahmu begitu murung.” tanya burung ketika bertemu dengan siput diantara hijaunya rerumputan.

“Hai burung, sepertinya kehidupanmu sangat bahagia. Kamu memiliki sayap untuk terbang. Jika kamu pergi kemanapun kamu tinggal mengepakkan sayapmu saja untuk terbang dengan cepat” ujar siput dengan wajah murung.

“Kamu ingin bisa terbang sepertiku?” tanya sang burung penasaran.

“Iya. Aku ingin bisa terbang. Aku lelah berjalan dalam waktu yang lama dengan membawa beban (cangkang) di punggungku ini. Aku sering kalah cepat dengan hewan-hewan yang lain. Sepertinya tidak berguna aku hidup” keluh siput sambil menekukkan antenanya.

“Tapi kamu beruntung karena tugasmu tidak begitu berat. Berbeda denganku, jika aku ingin bertelur aku harus membuat sarang sendiri dengan mencari rerumputan kering. Setelah itu aku juga harus mencari makan sendiri untuk memberi makan anak-anakku. Sedangkan kamu, kamu tinggal meletakkan telurmu yang banyak itu di tempat yang cocok dan setelah itu kamu bisa pergi kemanapun kamu mau.” ujar burung panjang lebar.

Senja yang indah itu tiba-tiba berubah menjadi senja yang begitu gelap. Awan mulai menebal dan rintik air hujan pun mulai turun membasahi bumi.

“Hujan,,,aku harus segera berteduh dan kembali ke sarang untuk melindungi anak-anakku. Segeralah berlindung di rumahmu itu… Aku pergi, sampai jumpa..”

Siput mulai menyadari bahwa ternyata hidupnya tidak sesulit apa yang ia pikirkan selama ini. Banyak kemudahan dalam hidupnya, terutama rumahnya yang ia pikir sebagai beban, ternyata sangat menguntungkan baginya. Sambil berlindung di rumahnya yang sangat nyaman, ia kembali mengumpulkan semangat hidupnya.

Oleh : Elsa Dwi Juliana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar