Dia, pasti ada...
Tahun 2013. Sudah lebih dari 20 tahun dia menghirup oksigen gratis di dunia ini. Selama itu pula dia mengalami banyak hal. Kumpul bersama keluarga besar di moment idul fitri membuatnya merasa asing dengan suasana yang ada. Beberapa tahun yang lalu, bocah yang sedang berlari itu adalah dirinya. Beberapa tahun yang lalu,bocah yang sedang merengek manja itu adalah dirinya. Dia rindu dengan masa itu. Masa yang sangat indah dan berkesan. Kini, bocah kecil itu bukan dia. Ada mereka yang lahir untuk menggantikan posisinya sebagai bocah jenaka. Bermain bersama, berlarian, dan tertawa bersama. Masa yang terlalu indah untuk ditinggalkan. Kini, suasananya lain. Dia telah menjadi pribadi lain. Bocah itu kini telah beranjak dewasa. Pertanyaan-pertanyaan baru pun mulai menghampiri. Tak hanya itu, beragam tuntutan pun perlahan mendekat. Sebagai keluarga, tak ingin tinggal diam untuk merencanakan masa depannya…
Tujuh bulan sudah berlalu sejak dia mengenal sesosok pemuda berhati mulia. Empat bulan berlalu sejak dia meneguhkan dirinya untuk tetap berdiri tegak. Tiga bulan sudah berlalu sejak dia mengenal sesosok pemuda berperangai ramah. Dua bulan berlalu sejak ia mengenal sesosok pemuda bertekad ksatria. Selama itu pula dirinya tetap berdiri tegak memegang prinsipnya. Dan bulan ini, sesosok pemuda kembali hadir dihadapannya…
Sudah cukup lama memang keluarga ini merencanakan pertemuan itu. Sudah cukup lama keluarga ini bereaksi atas kejadian beberapa bulan lalu. Hingga akhirnya, di hari yang masih bernuansa saling memaafkan, kejadian itu terjadi..
Mungkin dulu dia bisa tersenyum dan tertawa sendiri menyaksikan sang kakak mengalami kejadian serupa. Hhhhhh…., kali ini dia harus menerima kenyataan bahwa gilirannya telah tiba.
Sempat terbesit dalam hati, “Aku tidak akan seperti kakak. Aku ga mau terjebak dalam kisah kasih roman picisan.”
Tapi apa daya, berlatar belakang rasa hormat terhadap keluarga, hari itu dia dia harus menjadi aktris atas scenario yang disutradarai dan diproduseri oleh orang-orang terdekatnya. Sebuah scenario dengan jalan cerita yang begitu menawan. Tapi sayang, sungguh sayang, chemistry yang mereka harapkan tidak dia rasakan.
“Bukan dia, bukan dia. Sekali lagi bukan dia. Bukan dia.”
“Sehebat apapun profesinya, sebaik apapun rupanya, tidak menjamin kebahagiaan.”
Perbincangan seputar pertemuan itu kini menjadi perbincangan hangat keluarga. Sepertinya tak ada satupun yang mendukung apa yang dirasakannya. Sayang, sungguh sayang…
“Sekali lagi bukan dia. Maaf…”
“Ada dia yang suatu hari nanti akan datang. Ada dia, hingga keyakinan itu akan menghujam dalam hati. Ada dia yang akan membawa Surga. Ada dia, pasti…”
“Segeralah datang…” bisiknya dalam hati.
Oleh : Elsa Dwi Juliana
Langganan:
Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar